Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

Lingkungan pendidikan

Yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan adalah, segala sesuatu yang ada di luar diri individu yang mempengaruhi pribadinya. Pribadi individu berkembang melalui interaksi dengan lingkungannya. Dengan kata lain melalui pengalaman hidup yang berlangsung dalam lingkungan yang positif individu akan berkembang kepribadiannya. Sebab itu lingkungan tempat individu hidup merupakan lingkungan pendidikan baginya.
Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan dapat berlangsung secara informal (keluarga, formal (sekolah), maupun nonformal (masyarakat.
Pendidikan informal (keluarga, biasanya berlangsung karena rasa tanggung jawab orang tua terhadap anak. Orang yang berperan sebagai pendidik yang utama di dalam keluarga, adalah ayah dan ibu (orang tua. Di samping itu anggota keluarga lain (kakak, paman, bibi, kakek, nenek, bahkan pembantu rumah tangga pun) dapat mempengaruhi atau mendidik anak melalui interaksi atau pergaulan dengan anak. Pengalaman yang diterima anak pada masa kecil akan menentukan sikap hidupnya di masa mendatang. Dengan demikian keluarga merupakan peletak dasar pendidikan bagi anak.
Secara tersirat tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah, agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Sesuai dengan sifatnya yang informal, keluarga tidak memiliki kurikulum formal atau kurikulum tertulis. Dari uraian terdahulu, keluarga mempunyai fungsi dalam pendidikan sebagai berikut: a) sebagai peletak dasar pendidikan anak, dan b) sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan adanya karakteristik lingkungan pendidikan informal sebagai berikut: (a) tujuan pendidikannya lebih menekankan pada pengembangan karakter; (b) peserta didiknya bersifat heterogen; (c) isi pendidikannya tidak terprogram secara formal/tidak ada kurikulum tertulis; (d) tidak berjenjang; (e) waktu pendidikan tidak terjadwal secara ketat, relatif lama; (f) cara pelaksanaan pendidikan bersifat wajar; (g) evaluasi pendidikan tidak sistematis dan insidental; credentials tidak ada dan tidak penting.
Di samping mendapatkan pendidikan di rumah (secara informal), anak tentunya juga mendapatkan pendidikan di sekolah (secara formal). Sekolah mempunyai tujuan yang jelas yang dituangkan dalam bentuk kurikulum. Tetapi pada umumnya tujuan sekolah adalah memberikan bekal kemampuan kepada peserta didik dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara, makhluk Tuhan, serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Selain itu sekolah mempunyai fungsi konservasi dan fungsi inovasi. Fungsi konservasi, berarti sekolah berupaya untuk melestarikan nilai-nilai sosial-budaya yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan fungsi inovasi, berarti sekolah berupaya untuk melakukan pembaharuan di dalam masyarakat.
Secara khusus sekolah mempunyai karakteristik sebagai berikut: (a) secara faktual tujuan pendidikannya lebih menekankan pada pengembangan intelektual; (b) peserta didiknya bersifat homogen; (c) isi pendidikannya terprogram secara formal/kurikulumnya tertulis; (d) terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan; (e) waktu pendidikan terjadwal secara ketat, dan relatif lama; (f) cara pelaksanaan pendidikan bersifat formal dan artificial; (g) evaluasi pendidikan dilaksanakan secara sistematis; credentials ada dan penting.

Di lingkungan masyarakat, setiap orang akan memperoleh pengalaman tentang berbagai hal, misalnya tentang lingkungan alam, tentang hubungan sosial, politik, kebudayaan, dan sebagainya. Di lingkungan masyarakat ini juga setiap orang akan memperoleh pengaruh yang sifatnya mendidik dari orang-orang yang berada di sekitarnya, baik dari teman sebaya maupun orang dewasa melalui interaksi sosial secara langsung atau tatap muka maupun secara tidak langsung.
Masyarakat sebagai lingkungan pendidikan nonformal hendaknya dipahami sebagai lingkungan pendidikan di luar keluarga dan di luar sekolah. Pendidikan dalam masyarakat (nonformal) dapat diselenggarakan secara tidak terstruktur dan berjenjang, dapat pula diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan nonformal selain menjadi tanggung jawab pemerintah, juga menjadi tanggung jawab bersama orang dewasa (masyarakat) yang ada di lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Pendidikan dalam lingkungan masyarakat dapat berfungsi sebagai pengganti, pelengkap, penambah, dan mungkin juga pengembang pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah.
Pendidikan nonformal mempunyai karakteristik sebagai berikut: (a) tujuan pendidikannya lebih bersifat pengembangan keterampilan praktis; (b) peserta didiknya bersifat heterogen; (c) isi pendidikannya ada yang terprogram secara tertulis , ada pula yang tidak terprogram secara tertulis; (d) dapat terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan dan dapat pula tidak; (e) waktu pendidikan terjadwal secara ketat atau tidak terjadwal, lama pendidikannya relative singkat; (f) cara pelaksanaan pendidikan mungkin bersifat artificial mungkin pula bersifat wajar; (g) evaluasi pendidikan mungkin dilaksanakan secara sistematis dapat pula tidak sistematis; credentials mungkin ada dan mungkin pula tidak ada.
Dalam perkembangannya sekarang keluarga tidak dapat lagi memenuhi segala kebutuhan dan aspirasi pendidikan bagi anak-anaknya, baik menyangkut pengetahuan, sikap, maupun keterampilan untuk melaksanakan peranannya di dalam masyarakat. Dengan demikian sekolah dan masyarakat berfungsi sebagai pelengkap pendidikan yang tidak dapat diberikan oleh keluarga. Tetapi tidak berarti bahwa keluarga dapat melepaskan tanggung jawab pendidikan bagi anak-anaknya. Keluarga diharapkan bekerja sama dan mendukung kegiatan pendidikan di sekolah dan di masyarakat.
Sekolah mendapat mandat, tugas dan tanggung jawab pendidikan dari orang tua dan masyarakat. Oleh sebab itu pendidikan di sekolah tidak boleh berjalan sendiri tanpa memperhatikan aspirasi keluarga dan masyarakat. Dalam melaksanakan pendidikannya sekolah perlu bekerja sama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat. Pada masa sekarang sekolah tidak mampu lagi memberikan kebutuhan pendidikan bagi peserta didiknya secara menyeluruh, dan juga belum mampu menampung seluruh anak usia sekolah. Untuk itu pendidikan perlu dilengkapi, ditambah, dan dikembangkan melalui pendidikan di dalam lingkungan masyarakat.
Dari penjelasan di atas kita dapat melihat hubungan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

Jumat, 04 November 2011

Hakekat Dan Manfaat Menulis

Hakekat menulis
Menulis adalah suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya kepada pihak lain. Pesan adalah isi yang terkandung dalam suatu tulisan, adapun tulisan merupakan sebuah simbul atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Empat unsur yang terlibat dalam komunikasi adalah : penulis, isi tulisan, media berupa tulisan, dan pembaca. Contoh bentuk dan produk bahasa tulis adalah : artikel, esei, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita.

 Manfaat Menulis
Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang kompleks karena penulis dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya serta menuangkannya dalam formulasi ragam bahasa tulis dan konvensi penulisan lainnya. Di balik kerumitannya, menulis mengandung banyak manfaat bagi pengembangan mental, intelektual, dan sosial seseorang. Menulis dapat meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreatifitas, menumbuhkan keberanian, serta mendorong  kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Tidak banyak orang yang menyukai tulis-menulis karena mungkin merasa tidak berbakat, serta tidak tahu untuk apa dan bagaimana harus menulis. Keadaan ini tentu saja tak lepas dari lingkungan dan pengalaman belajar menulis di sekolah, denngan segala mitos atau miskonsepsi tentang menulis dan pembelajarannya.
Beberapa mitos yang perlu diperhatikan tentang menulis dan pembelajarannya adalah:
  1. Menulis itu mudah
Yang mudah adalah teori menulis atau mengarang karena gampang dihafal, tetapi  menulis tidak hanya teori tetapi yang diutamakan adalah keterampilannya. Karena ada seni di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat kemampuan seseorang dalam mengarang.
  1. Kemampuan menggunakan unsur mekanik tulisan merupakan inti dari menulis
Dalam menulis diperlukan keterampilan mekanik, tetapi unsur mekanik saja tidak cukup. Tetapi harus mengandung isi yang akan disampaikan.
  1. menulis harus sekali jadi
Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali jadi, meskipun penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses, yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.
  1. Tidak suka menulis dan tidak pernah menulis dapat mengajarkan menulis.
Tidak bisa , siapapun yang mengajarkan menulis atau mengarang dia harus menyukai dan memiliki pengalaman dan keterampilan menulis/mengarang.

Apa Hubungan Menulis dengan Keterampilan Berbahasa yang lain?
Menulis sebagai aktivitas berbahasa tidak dapat dilepaskan dari kegiatan berbahasa lainnya. Apa yang diperoleh melalui menyimak, membaca dan berbicara, akan memberinya masukan berharga untuk kegiatan menulis. Meskipun demikian, menulis sebagai suatu aktivitas berbahasa tulis memiliki perbedaan, terutama dengan kegiatan berbahasa lisan. Perbedaan itu menyangkut kecaraan serta konteks dan hubungan antar unsur yang terlibat, yang berimplikasi pada ragam bahasa yang digunakan.

Karangan dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam wacana. Yakni: deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. .Deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Narasi adalah ragam yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa. Eksposisi adalah menerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya. Argumentasi dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Adapun persuasi ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya.
Ada beberapa  pendapat yang berkaitan dengan pembelajaran menulis seperti yang dilontarkan oleh pendekatan frekuensi, gramatikal, koreksi dan formal. Pendekatan-pendekatan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, beberapa  pendekatan itu tidak menyentuh aktivitas menulis sebagai proses.
Menulis sebagai suatu proses , menulis melibatkan serangkaian kegiatan yang terbagi atas tahap prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan. Fase prapenulisan merupakan tahap persiapan yang mencakup kegiatan pemilihan topik, penentuan tujuan, penentuan pembaca dan  corak karangan, pengumpulan informasi atau bahan tulisan, serta penyusunan kerangka karangan.
Berdasar kerangka itu, maka pengembangan karangan pun dimulai. Inilah fase penulisan. Setiap butir ide yang telah direncanakan dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan jenis informasi yang disajikan, pola pengembangan, pembahasan, dan sebagainya. Setelah fase ini selesai, maka penulis membaca kembali, memeriksa dan memperbaiki karangan, dan fase inilah yang disebut  dengan tahap pascapenulisan. Di sini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang dihasilkan. Kegiatan ini bisa terjadi beberapa kali.

Implikasi karakteristik manusia Indonesia terhadap pendidikan

Pada materi ini akan dibahas mengenai implikasi karakteristik manusia (masyarakat) Indonesia terhadap dasar dan akar pendidikan, pengelolaan pendidikan, kurikulum pendidikan, wajib belajar, gerakan orang tua asuh, dan implikasi karakteristik kebudayaan terhadap praktik pendidikan.

1.Implikasi terhadap dasar dan akar pendidikan.
Pancasila dan UUD 1945 berkedudukan sebagai dasar pendidikan nasional. Dan pendidikan yang dikembangkan di Indonesia harus berakar pada nilai-nilai agama dan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Jika tidak demikian maka pendidikan tidak akan dapat meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia secara utuh. Demikian juga jika pendidikan dikembangkan dengan berakar pada nilai kebudayaan asing, maka akan menimbulkan kesenjangan sosial-budaya bahkan kemungkinan identitas bangsa akan terkikis habis. Implikasinya maka pendidikan nasional hendaknya berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional.

2.Implikasi terhadap pengelolaan pendidikan 
Wilayah negara Republik Indonesia sangat luas, dan beraneka ragam keadaan lingkungan fisik serta kekayaan yang dikandungnya, ditambah dengan kemajemukan keadaan sosial-budayanya, membuat Indonesia mengambil kebijakan pengelolaan pendidikan yang efisien dan efektif. Maka sebagai implikasinya kebijakan pengelolaan pendidikan dalam sistem pendidikan nasional kita bersifat dekonsentrasi seperti tercermin dalam pasal 50 UU RI No. 20 tahun 2003.
Untuk itu pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Mentri,dengan demikian pemerintah pusat yang menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.Sementara Pemerintah Daerah Provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan ,pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan pasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kab/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Pengelolaan satuan pendidikan. Pengelolaan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah/madrsah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan.
Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan.
Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan yang berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik, berprinsip nirlaba, dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.

3.Kurikulum Pendidikan
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang dianut pendidikan Indonesia, mengingat bahwa dengan adanya keragaman dan kekayaan lingkungan fisik yang dimiliki masyarakat bila kurang dimanfaatkan untuk kemakmuran ,karena masyarakatnya kurang berdaya untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya. dengan demikian
pendidikan yang diselengarakan hendaknya merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa, dan negara. Dengan demikian hendaknya pendidikan diselenggarakan sebagai pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik. Implikasinya maka pendidikan hendaknya memuat kurikulum yang dapat mengembangkan seluruh kemampuan atau kecakapan hidup berbudaya dalam pengertian luas yang meliputi berbagai elemen dari ketiga wujud kebudayaan secara terintegrasi.
Ragamnya lingkungan fisik yang dihuni masyarakat Indonesia, serta ragamnya keadaan sosial-budaya menghadapkan suatu tantangan bagi masyarakat (bangsa) Indonesia. Dengan adanya tantangan tersebut, maka implikasinya adalah perlu diambil kebijakan sebagai berikut: 1) kurikulum nasional yang memungkinkan tetap lestarinya keadaan masyarakat yang Bhineka Tunggal Ika, terbinanya kepribadian bangsa, terjaminnya standar nasional mutu pendidikan, dan relevansi pendidikan secara nasional. Kurikulum pendidikan nasional ini baik berkenaan dengan jenis pendidikan umum, pendidikan akademik, dan jenis pendidikan lainnya. 2) kurikulum muatan lokal yang memungkinkan terjaminnya relevansi pendidikan secara lokal, baik dalam kaitannya dengan lingkungan fisik maupun sosial-budaya.

4.Wajib Belajar
Karakteristik sosial budaya Indonesia turut berimlikasi terhadap kebijakan dan penyelengaraan wajib belajar pendidikan dasar yaitu pertama, salah satu tujuan NKRI adalah mencerdaskan bangsa.Kedua, nilai dan norma yang mengakui kesamaan hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan pasal 31 UUD 1945. Ketiga, keragaman lingkungan fisik masyarakat indonesia yang sebagian besar berada di pedesaan terpencil dan terisolasi. Keempat, pelapisan sosial ekonomi.Kelima, asumsi menganai fungsi pendidikan demi pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat. Keenam, asumsi mengenai fungsi kebudayaan sebagai dasar dan alat bagi manusia untuk dapat menangani permasalahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan hal ini memberikan implikasi terhadap kebijakan dan penyelenggaraan wajib belajar, yaitu: 1) kebijakan mengenai peningkatan akses dan perluasan kesempatan belajar bagi semua anak usia pendidikan dasar dengan target utama daerah serta masyarakat miskin dan terisolasi, 2) kebijakan tentang keragaman satuan pendidikan penyelenggara wajib belajar pendidikan dasar berupa: SD Biasa, SD Kecil, SD Pamong, SD Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa, SD Terpadu, Program Kejar Paket A, Ujian Persamaan SD Madrasah Ibtidaiyah, dan Pondok Pesantren, SLTP Biasa, SLTP Kecil, SLTP Terbuka, SLTPLB, SLB, SLTP Terpadu, Program Kejar Paket B, Ujian Persamaan SUP, MTs, MTs Terbuka, dan Pondok Pesantren.

5.Gerakan Nasional Orang Tua Asuh
Pelaksanaan pendidikan memerlukan dana atau biaya yang tidak sedikit. Bagi masyarakat kurang mampu, untuk dapat membiayai anak-anaknya agar dapat menyelesaikan pendidikan pada tingkat sekolah dasar saja sudah sulit atau bahkan tidak mampu. Apalagi untuk menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun dan selanjutnya. Di pihak lain pemerintah juga memiliki keterbatasan dalam hal anggaran pendidikan. Sementara mereka yang kurang mampu mendapatkan jaminan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dasar sembilan tahun. Implikasi dari kondisi tersebut, perlu ada kebijakan untuk melaksanakan peranan sebagai orang tua asuh oleh lapisan masyarakat yang berstatus sosial-ekonomi tinggi, sehingg dapat mengatasi kesulitan biaya pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Sejalan dengan itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Sosial RI No. 52/HUK/1996 telah mengambil keputusan tentang “Pembentukan Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh”. Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA), dan dikeluarkan pula Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 8 tahun 1997 tentang “Pembentukan Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh”. 

6.Implikasi karakteristik Kebudayaan Terhadap Praktek Pendidikan
Kebudayaan Ideal versus Kebudayaan Aktual. Dalam praktek pendidikan kadang terjadi pula ketidak sejalanan antara nilai ideal dengan nilai aktual,untuk itu guru harusnya menjadi teladan. Artinya, mesti terdapat kesejalanan antara kebudayaan ideal dengan kebudayaan aktual.
Stabil versus perubahan.Pendidikan juga harus bersifat inovatif. Dengan demikian,peserta didik akan kreatif,memiliki motivasi untuk melakukan perubahan dalam kebudayaan.
Pendidikan di Indonesia harus menentukan pilihan arah dan melanjutkan perjalanan. Dalam menentukan arah, pendidik harus memilih arah yang tepat, ia harus kembali kepada nilai-nilai yang menjadi dasar pendidikannya. Pancasila dan UUD 1945 adalah dasar pendidikan kita, implikasinya kita memang perlu melestarikan kebudayaan lama yang dianggap mapan, sebaliknya juga tidak menolak adanya perubahan. Karena Pancasila dan UUD 1945 berstatus sebagai dasar pendidikan nasional, maka hendaknya keduanya dijadikan acuan dan arah dalam rangka melakukan fungsi perubahan (kreasi atau inovasi) dalam pendidikan. Prinsip perubahan dalam pendidikan bukanlah mengikuti perkembangan jaman atau kebudayaan yang sedang berubah, melainkan melakukan perubahan dengan mengacu kepada nilai-nilai dasar tertentu dan mengendalikannya ke arah tujuan tertentu pula. 

BEBERAPA PENDEKATAN PENELITIAN


Memilih pendekatan yang cocok merupakan salah satu unsure yang penting dalam melakukan suatu penelitian. Untuk menentukan pendekatan penelitian, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui beberapa jenis pendekatan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Pendekatan suatu penelitian ditentukan berdasarkan jenis penelitian apa yang kita lakukan. Jadi jenis-jenis pendekatan juga dapat dikelompokkan berdasarkan jenis penelitian yang kita lakukan.

Jenis-jenis Pendekatan:
1. Jenis Pendekatan menurut Teknik Samplingnya

Jenis pendekatan ini menggunakan objek yang diteliti dalam menggambil pendekatan suatu penelitian.

  • a. Pendekatan Populasi

Dalam pendekatan populasi, peneliti menggunakan populasi atau seluruh komponen dari subjek penelitian sebagai sumber data dalam penelitian tersebut. Jadi yang menjadi target pendekatan penelitian ini adalah populasi.

  • b. Pendekatan Sampel

Seringkali terjadi bahwa peneliti tidak dapat melakukan studi terhadap semua anggota yang menjadi objek penelitian, sehingga mereka hanya mampu mengambil sebagian dari populasi (sampel), dalam penelitian ini biasanya digunakan pendekatan sampel. Pendekatan ini biasanya diterappkan terhadap penelitian yang populasinya cukup besar sehingga untuk mengumpulkan datanya membutuhkan tenaga, pemikiran, dan/atau dana yang besar sehingga menyulitkan peneliti dalam mengumpulkan datanya.

  • c. Pendekatan Kasus

Penelitian kasus adalah penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang suatu keadaan tertentu yang ada sekarang dan interaksi linkungan suatu unit sosial: individu, kelompok lembaga atau masyarakat.
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain atau anak yang selalu gagal belajar.
Peneliti memilih salah satu kasus dan mempelajarinya secara mendalam dan dalam jangka waktu tertentu. Artinya peneliti mengungkap semua variabel yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan hal tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan.

2. Jenis Pendekatan menurut Timbulnya Variabel

  • a. Pendekatan Non-eksperimen (Penelitian Deskriptif)

Pendekatan Non-eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi). Misalnya, penelitian mengenai kemunduran prestasi belajar siswa, kemunduiran rasa tanggung jawab.

  • b. Pendekatan Eksperimen

Pendekatan Eksperimen adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel-variabel yang akan datang.
Pendekatan Eksperimen/eksplanatori adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan apa-apa yang akan terjadi bila variabel-variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu.
Jadi pendekatan ekperimen adalah penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian eksperimen.

3. Jenis Pendekatan menurut Pola-pola atau Sifat-sifat Non-Eksperimen

  • a. Pendekatan Kasus (case-studies)

Selain dapat dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka yang telah ada, pengumpulan data suatu penelitian dapat pula dilakukan dengan mengadakan kuliah kerja (field work). Salah satu bentuk dari kuliah kerja itu adalah case study, yang dalam sejarah pertumbuhannya mula-mula dipergunakan untuk menggambarkan dan menunjang suatu pendapat atau dalil. Pendekatan ini digunakan untuk memecahkan suatu problema melalui pengumpulan data dalam bentuk beberpa case yang kongkret dan terperinci.

  • b. Pendekatan Kausal-Komparatif

Pendekatan Kausal-Komparatif adalah penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara berdasarkan atas pengamatan terhadap akibat yang ada, mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol. Misalnya, penelitian sikap santai siswa dalam kegiatan belajar, mungkin menyebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.

  • c. Pendekatan Korelasi

Penelitian korelasional adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Jadi dalam menggunakan pendekatan ini, peneliti dituntut mempelajari dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variabel dalam satu variabel berhubungan dengan variabel lain. Misalnya, studi mempelajari hubungan antara skor pada tes masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi.

  • d. Pendekatan Histori

Pendekatan historis yaitu usaha untuk mempelajari dan mengenali fakta-fakta dan menyusun kesimpulan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau. Disini peneliti dituntut menemukan fakta, menilai dan menafsirkan fakta yang diperoleh secara sistematis dan objektif untuk memahami masa lampau. Temuan-temuan masa lampau tersebut dapat dijadikan bahan untuk masa yang sekarang dan meramalkan peristiwa yang akan datang.

4. Jenis Pendekatan menurut Model Pengembangan atau Model Pertumbuhan

  • a. One-shot model yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada suatu saat. Misalnya, penelitian yang dilakukan untuk meneliti perkembangan motorik pada anak usia 1 tahun, penelitian dilakukan pada satu waktu terhadap satu kelompok.
  • b. Longitudinal yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dangan cara mengikuti perkembangan individu-individu yang sama. Misalnya, meneliti perkembangan motorik sekelompok anak umur 7 bln, 8, 9, 10, 11, 12 bulan, dst, dengan demikian, penelitian dilakukan pada beberapa waktu terhadap 1 kelompok.
  • c. Cross-sectional model atau pendekatan silang yaitu gabungan antara model a dan b untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekaligus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengalami subjek dari berbagai tingkat umur. Misalnya, seorang peneliti yang meneliti perkembangan pola pikir suatu sekolah dasar, maka peneliti meneliti secara serentak kelas I, II, III, IV, V dan VI.


Rabu, 22 Juni 2011

Contoh RPP PKR

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP

Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester : VI / 1 dan IV / 1
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit

Standar Kompetensi
3. Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga (Kelas 6)
4. Menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah (Kelas 4)

Kompetensi Dasar
3.1 Menghitung luas segi banyak yang merupakan gabungan dari dua bangun datar sederhana (Kelas 6)
4.1. Menentukan keliling dan luas jajaran genjang dan segi tiga (Kelas 4)

Indikator :
Kelas 6 :
   - Menentukan luas bangun datar sederhana
   - Menentukan luas segi banyak yang merupakan gabungan beberapa bangun datar sederhana

Kelas 4 :
   - Menemukan keliling dan luas jajar genjang dan segi tiga

I. Tujuan Pembelajaran
Kelas 6 :
   - Peserta didik dapat menentukan luas segi banyak yang merupakan gabungan dua bangun datar sederhana

Kelas 4 :
   - Peserta didik dapat menemukan keliling dan luas jajaran genjang dan segi tiga.

II. Materi Pembelajaran
   -  Kelas 6 : Luas bangun datar
   -  Kelas 4 : Keliling dan luas

III. Metode Pembelajaran
Tanya jawab, diskusi, tugas kelompok dan individual

IV. Langkah-langkah Kegiatan
Pendahuluan (10 menit) :
1. Apersepsi :
   - Absensi
   - Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari.
2. Pemberian Motivasi

Kegiatan Inti (40 menit):

  1. Guru membagi siswa kelas 6 dan kelasd 4 menjadi masing-masing 6 kelompok.
  2. 1 kelompok kelas 6 digabung dengan 1 kelompok kelas 4 sehingga seluruhnya menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kelas 6 dan kelas 4.
  3. Tiap kelompok diberi tugas untuk membuat 3 buah segitiga yang berbeda ukuran dari karton yang telah disediakan.
  4. Siswa kelas 4 dibantu siswa kelas 6 mengukur keliling dan luas dari segitiga segitiga tersebut dalam kelompoknya dan siswa kelas 6 merangkaikan 3 buah segitiga tersebut menjadi satu bangun dan menghitung luasnya
  5. Masing-masing kelompok diberi waktu 30 menit untuk menyelesaikan tugasnya
  6. Setelah 30 menit, guru meminta perwakilan dari kelompok kelas 4 untuk menuliskan hasil kerja kelompok mereka di depan kelas, bergantian dengan siswa kelas 6 dan meminta kelompok yang lain untuk memperhatikan dan memberikan koreksi jika ada kesalahan.


Penutup (20 menit):
1. Guru membimbing siswa kelas 6 dan kelas 4 untuk merangkum materi yang baru saja disajikan
2. Guru memberikan tugas atau PR.

V. Alat/ Bahan/ Sumber
Sumber :
   - Buku Matematika Kelas 6
   - Buku Matematika Kelas 4
   - Buku pendukung lain yang relevan
Alat dan Bahan :
   - Karton
   - Gunting atau cutter

IV. Penilaian :
Jenis penilaian : Unjuk kerja, tertulis, proses
Bentuk tes : essay

Mengetahui/menyetujui,                                                                                  Nanggung, 25 Mei 2011     
Tutor                                                                                                                Mahasiswa



TATANG SUTISNA, S.Pd                                                                           DENI SYAHYADI
NIP.195407081974031002                                                                             NIM.819310581

Senin, 14 Juni 2010

ASPEK-ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA

A. PERPADUAN ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS TINGGI

       Dalam Kurikulum Bahasa Indonesia SD tahun 2004, pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai dengan aspek mendengarkan yang Standar Kompetensinya telah ditetapkan oleh BSNP. Standar kKompetensi tersebut dijabarkan dalam bentuk tabel yang terdiri dari Kompetensi Dasar, Hasil Belajar, Indikator dan Materi pokok seperti yang biasa kita temui dalam silabus pembelajaran.

      Kemudian setelah aspek mendengarkan, diikuti oleh aspek-aspek lainnya yaitu Aspek Berbicara, Aspek Membaca dan Aspek Menulis. Aspek-aspek tersebut berurutan seperti itu dan sama dari mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6.

      Dalam pembelajaran di kelas, terutama di kelas tinggi, keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut dapat dipadukan satu sama lain.

B. PERPADUAN ASPEK KETERAMPILAN BAHASA DENGAN ASPEK SASTRA DI KELAS TINGGI.

      Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat memadukan antara keterampilan berbahasa dengan aspek kesastraan. Misalkan di kelas 6, ada kompetensi dasar “Membaca Novel Anak”. Dalam indikator dari membaca novel anak tersebut terdapat aspek mendengarkan, aspek sastra dan dapat juga ditambah dengan aspek menulis dan membaca

Senin, 02 November 2009

Hakikat Evaluasi Program Dan Evaluasi Program Pembelajaran

Evaluasi program ialah pendekatan formal yang digunakan untuk menilai kebijakan, pekerjaan atau satu program tertentu. Misalkan kebijakan pemerintah mengganti bahan bakar minyak dengan gas, program wajib belajar. Penilaian difokuskan pada berbagai aspek program, sesuai dengan pendekatan yang digunakan. Aspek-aspek tersebut misalnya contexts, input, proses dan product hasil penilaian pada umumnya digunakan untuk mengambil keputusan. Apakah kebijakan atau program tertentu perlu diteruskan, direvisi atau dihentikan.

Evaluasi program pembelajaran adalah pendekatan formal yang digunakan untuk menilai program pembelajaran. Bedanya, disamping penilaian secara formal yang dilakukan oleh satu tim. Evaluasi program pembelajaran dapat dilakukan oleh guru secara berkelanjutan yang hasilnya langsung digunakan untuk melakukan perbaikan.

Evaluasi program pembelajaran bertujuan menemukan kekuatan dan kelemahan berbagai komponen pembelajaran. Hasil yang diperoleh segera ditindak lanjuti sehingga kelemahan pembelajaran dapat diperbaiki dan kekuatan dapat dipertahankan.

Kerugian yang terjadi jika evaluasi program pembelajaran tidak pernah dilakukan adalah:
  • Guru dan sekolah tidak pernah tahu kualitas program pembelajaran yang ditawarkan kepada masyarakat.
  • Budaya untuk melakukan perbaikan secara sistematis tidak pernah terjadi karena tidak pernah tersedia informasi yang dapat dijadikan dasar untuk perbaikan.
  • Para guru tidak tertantang untuk mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan, mereka hanya bekerja secara rutinitas.
  • Para siswa akan belajar secara rutin karena tidak pernah ada upaya perbaikan sistematis yang dilakukan.
Di tingkat sekolah, evaluasi program pembelajaran secara keseluruhan (yang dilaksanakan oleh semua guru, barangkali dengan melibatkan satu tim penilai) dapat dilakukan secar periodik, misalnya setiap akhir semester. (Undang-undang No. 20/2003 tentang Sitem Pendidikan nasional Pasal 56). Hasil evaluasi program yang dilakukan oleh sekolah ini dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan dalam bidang, termasuk dalam pembelajaran. Evaluasi program yang dilakukan guru harus diawali dengan keinginan untuk mengkaji ulang apa yang terjadi selama pembelajaran. Guru mengingat berbagai peristiwa yang terjadi, mempertanyakan mengapa itu yang terjadi, dan apa dampak peristiwa tersebut bagi kelas. Kesediaan untuk menjawab pertanyaan sendiri secara jujur, mempertanyakan jawaban dan mempertanyakan pertanyaan, merupakan kepedulian sari orang-orang yang terdidik.

PEMBAHARUAN PEMBELAJARAN YANG DI SD

A. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual adalah salah satu strategi pembelajaran yang berhubungan dengan :
  1. Fenomena sosial masyarakat, bahasa dan lingkungan hidup, harapan dan cita yang tumbuh
  2. Fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid
  3. Kelas sebagai fenomena sosial
Kontekstualitas yang dimaksud diatas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat.

Pembelajaran kontekstual (kontekstual teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengartikan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (contruktrivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling) dan penilaian sebenarnya (authentic assesment).

Pembelajaran ini berdasarkan penelitian John Dewey ( Uustoharudin, 2005). Menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang akan terjadi di sekelilingnya.

B. PAKEM

Pakem dalam perspektif guru adalah guru aktif memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang dan mempertanyakan gagasan siswa. Kreatif mengembangkan kegiatan yang beragam dan membuat alat Bantu belajar secara sederhana, efektif sehingga pembelajaran mancapai tujuan dan menyenangkan sehingga anak tidak takut salah, ditertawakan dan disepelekan. Sementara itu pakem dalam perspektif siswa adalah siswa aktif bertanya, mengemukakan gagasan

Jumat, 30 Oktober 2009

Tatanan Organisasi dan Bentuk-bentuk Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Dasar

A. TATANAN ORGANISASI SEKOLAH DASAR

        Pada dasarnya, penyelenggaraan pendidikan di SD menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Pemerintah Daerah, baik Tingkat Propinsi (Dinas Pendidikan Propinsi), Kabupaten/Kota (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota), maupun Kecamatan (Ranting Dinas) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tantang kewenangan Pemerintah dan kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Pengelolaan SD juga melibatkan Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri, yang berperan dalam peningkatan mutu pelaynan pendidikan dan pengawasan pendidikan.
        Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pemerintah Pusat (Depdiknas) menentukan Standar Nasional Pendidikan. Sedangkan Pemerintah Propinsi bertugas melakukan koordinasi atau penyelenggaraan pendidikan. Pengembangan tenaga kependidikan dan penyediaan fasilitas pendidikan lintas daerah Kabupaten/Kota untuk Pendidikan Dasar dan menengah.
Pengelolaan SD dilaksanakan berdsarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip kemandirian dan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah. Dengan demikian, tanggung jawab utama pengelolaan SD berada di tangan SD sendiri.

B. BENTUK-BENTUK PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SD

        Untuk memenuhi kewajiban belajar pada jenjang Sekolah Dasar, pendidikan SD dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal mencahup SD/MI, SDLB/ SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus dan SD Inklusi. Sedangkan pendidikan non formal mencakup Paket A dan Sekolah Rumah.
        SDLB diperuntukkan khusus bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam belajar karena kelainan fisik atau mental yang dialaminya, sedangkan SD Inklusi adalah SD biasa yang juga menerima anak-anak yang mempunyai kelainan, sehingga terjadi pambauran antara anak normal dengan anak berkelainan. Sementara itu, SD Unggulan atau Sekolah Nasional Plus adalah SD yang mempunyai keunggulan dalam aspek tertentu, seperti penggabungan bahasa asing yang menggunakan Kurikulum Internasional.
        Paket A adalah pendidikan nonformal jenjang SD yang diperuntukkan bagi warga Negara yang berusia 14 – 45 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan SD. Sekolah rumah atau home schooling adalah sekolah yang diselenggarakan di rumah melalui layangan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain, dengan proses belajar yang kondusif sehingga potensi anak yang unik dapat berkembang secara optimal.

Kamis, 29 Oktober 2009

Taman Siswa Dan Kontribusinya Untuk Bangsa

A. PENDIDIKAN TAMAN SISWA
            Perguruan Taman Siswa merupakan sekolah tertua di Indonesia yang hingga kini masih eksis. Perguruan ini didirikan tanggal 3 Juli 1992 dengan nama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa atas prakarsa Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyannya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani..
            Perguruan ini awalnya merupakan bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan melalui perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat dengan menggunakan pendidikan dalam arti luas. Ki Hajar Dewantara menjadikan Tamansiswa sebagai kawah candradimukanya patriot bangsa. Melalui Tamansiswa, generasi muda Indonesia dibangun semangat kebangsaannya, rasa cinta tanah airnya dan ditanamkan nilai-nilai kebhinekaan (pluralisme). Dengan konsep pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsa yang ditujukan untuk keperluan prikehidupan yang dapat mengangkat derajat hidup manusia, bangsa dan Negara.
            Taman siswa pernah mengalami masa kejayaan. Pada zaman kejayaannya, cantrik-cantrik Tamansiswa disadarkan bahwa kaum pribumi (inlander) adalah bangsa yang terjajah, dijajah oleh tuan menir yang berkulit putih. Walaupun ada sekolah negeri yang didirikan oleh Belanda pada waktu itu, tetapi semangatnya ialah untuk mencetak para ambtenar yang siap mengabdi dan bekerja untuk kepentingan penjajah. Berbeda dengan sekolah Tamansiswa yang semangatnya adalah untuk mengangkat derajat manusia, bangsa dan Negara Indonesia. Ketika sebagian besar rakyat Indonesia sadar akan posisinya sebagai bangsa yang terjajah dan semangat kebangsaannya bangkit, maka Tamansiswa mendapat dukungan rakyat sehingga berkembang pesat, cabang-cabangnya berdiri di seluruh nusantara.
            Pada zaman revolusi, Tamansiswa memberi banyak kepada negeri ini. Dari Tamansiswa banyak pahlawan kemerdekaan lahir yang berjuang untuk Indonesia merdeka.Dari Tamansiswa tumbuh kader-kader nasionalis yang pada awal kemerdekaan perannya sangat signifikan. Banyak menteri dijabat dari orang-orang Tamansiswa. Konsep pendidikan Tamansiswa menjadi guru Sistem Pendidikan Nasional.
 
B. LATAR BELAKANG BERDIRINYA TAMAN SISWA
            Ki Hajar Dewantara (KHD) ialah salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia, berasal dari lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsa Indonesia. Ia menamatkan sekolah di ELS (Sekolah Dasar Belanda), lalu melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumipoetra). Namun tidak sampai lulus karena sakit. Ia lalu bekerja sebagai wartawan pada beberapa surat kabar. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif dan mampu membangkitkan anti kolonial bagi para pembacanya.
            Pada tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan.
            Tanggal 25 Desember 1912 bersama douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumu mendidikan Indische Partij ( Partai Politik Pertama yang beraliran Nasionalisme Indonesia).
            Pada November 1913 ia ikut membentuk Komite Bumipoetra sebagai tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Belanda. Dalam komite Bumipoetra ini, KHD mengkritik Pemerintah Kolonial Belanda melalui tulisan yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een vor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda dimuat dalam surat kabar de Express milik Dr. Douwes Dekker.
            Akibat tulisan itu, Pemerintah Kolonial Belanda menjatuhkan hukuman vuang kepada KHD ke pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo membela KHD lewat tulisan mereka, namun tulisan tersebut juga dianggap menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak oleh pemerintah Belanda.
            Akhirnya, Douwes Dekker dihukum buang ke Kupang dan Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Atas permohonan mereka, akhirnya pada bulan Agustus 1913 mereka dibuang ke Negeri Belanda.
            Di Belanda, KHD mempergunakan kesempatan itu untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran hingga memperoleh gelar Europeesche Akte. Dalam studinya, KHD terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat,seperti Froebel dan Montessori, serta Pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tigore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
            Tahun 1918, KHD kembali ke Indonesia dengan strategi perjuangan baru, yaitu dengan cara mencerdaskan kehidupan bangsanya. KHD berpikir bahwa rakyat yang bisa membaca, menulis, cerdas dan mencintai bangsanya akan mudah dimobilisasi dan digerakkan untuk Indonesia merdeka. Maka pada tahun 1922, didirikanlah Taman Siswa.
 
C. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TAMAN SISWA
            Seperti telah disinggung pertama kali, Pendidikan Taman Siswa hingga saat ini masih eksis. Masing-masing tingkatan dalam Taman Siswa memiliki nama yang unik, seperti ;
۩              Taman Indria atau Taman Kanak-kanak (TK)
۩              Taman Muda atau Sekolah Dasar (SD)
۩              Taman Dewasa atau Sekolah Menengah pertama (SMP)
۩              Taman Madya atau Sekolah Menengah Atas (SMA)
۩              Taman Guru atau Sarjana Wiyata atau Universitas            . 
            Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasarkan sistem Among yaitu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini, setiap pendidik harus meluangkan waktu selama 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik. Sistem Among ini berdasarkan cara berlakunya disebut sistem Tut Wuri Handayani. Orientasi pendidikan adalah pada anak didik yang dalam terminology baru disebut student centered.
            Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Taman Siswa menyelenggarakan kerjasama yang selaras antara lingkungan keluarga, lingkungan keguruan dan lingkungan masyarakat. Selain itu, Taman Siswa mempunyai ciri khas yaitu Pancadrama : Kodrat Alam (memperhatikan Sunatullah). Kebudayaan (trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat masing-masng individu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai macam suku) dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang)
            Tujuan yang utama dari pendidikan Taman Siswa saat ini ialah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mendiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda, namun tujuan pendidikan Taman Siswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.
 
 
DAFTAR PUSTAKA